Rabu, 10 Februari 2010

Sejarah Ratu Shima, Ratu kalinyamat, RA. Kartini


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Situasi kehidupan dewasa ini sudah semakin kompleks. Kompleksitas kehidupan seolah-olah telah menjadi bagian yang mapan dari kehidupan masyarakat, sebagian demi sebagian akan bergeser atau bahkan mungkin hilang sama sekali karena digantikan oleh pola kehidupan baru pada masa mendatang yang diperkirakan akan semakin kompleks.
Kecenderungan yang muncul dipermukaan dewasa ini, ditunjang oleh laju perkembangan teknologi dan arus gelombang kehidupan global yang sulit atau tidak mungkin dibendung, mengisyaratkan bahwa kehidupan masa mendatang akan menjadi syarat pilihan yang rumit. Ini mengisyaratkan bahwa manusia akan semakin bingung atau bahkan larut ke dalam situasi baru tanpa dapat menyeleksi lagi jika tidak memiliki ketahanan hidup yang memadai. Hal ini disebabkan tata nilai lama yang telah mapan ditantang oleh nilai-nilai baru yang belum banyak dipahami.
Situasi kehidupan seperti itu memiliki pengaruh kuat terhadap dinamika kehidupan remaja, apalagi remaja secara psikologis, tengah berada pada masa topan dan badai serta tengah mencari jati diri. Pengaruh kompleksitas kehidupan dewasa ini sudah tampak pada berbagai fenomena remaja yang perlu memperoleh perhatian. Fenomena yang tampak akhir-akhir ini, antara lain perkelahian antar remaja, penyalahgunaan obat dan alkohol, reaksi emosional yang berlebihan dan berbagai perilaku yang mengarah pada tindak kriminal. (Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Peserta Perkembangan Perseta Didik, Bumi Aksara, Jakarta, 2004, hlm. 107).
Problem remaja di atas, menjadikan remaja Jepara sekarang mulai melupakan Patriotisme ke-3 Pahlawan Wanita Jepara yaitu Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, RA. Kartini, ,. Dengan adanya Hari Jadi Jepara ini kita remaja Jepara diingatkan kembali dengan Pahlawan Wanita kita supaya kita selalu ingat dan mencontoh serta dapat meniru perjuangannya.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik mengangkat judul “Partiotisme Ratu Sima, Ratu Kalinyamat, R.A Kartini Sebagai Motivator Remaja”

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, penyusun dapat mengambil rumusan masalahnya sebagai berikut :
1.Perubahan apa yang dialami remaja Jepara sekarang ?
2.masalah-masalah apa yang timbul akibat dari perubahan dalam masa-masa remaja Jepara sekarang ?
3.Remaja sekarang khususnya remaja Jepara cenderung melupakan ke-3 tokoh pahlawan wanita Jepara
4.dan bagaimana solusi mengatasi perubaha-perubahan remaja Jepara sekarang ?

C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuat karya tulis ini ialah :
1.untuk selalu mengingatkan kepada remaja Jepara sekarang agar tidak melupakan Partiotisme ke-3 Pahlawan Wanita Jepara
2.untuk memberi motivasi kepada remaja Jepara sekarang agar dapat meniru Perjuangan Patiotisme ke-3 Pahlawan Wanita Jepara.










BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Patriotisme
Patriotisme adalah sikap dan perilaku seseorang yang dilakukan dengan penuh semangat rela berkorban untuk kemerdekaan, kemajuan, kejayaan, dan kemakmuaran bangsa. Seseorang yang memiliki sikap dan perilaku patriotic ditandai adanya hal-hal sebagai berikut :
1.Rasa cinta pada tanah air
2.Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan Negara
3.Menempatkan persatuan, kesatuan serta keselamatan Negara diatas kepentingan pribadi dan golongan
4.Berjiwa pembaharu
5.Tidak mudah menyerah
Konsep patriotik tidak selalu terjadi dalam lingkup Bangsa dan Negara, tetapi juga dalam lingkup sekolah dan desa atau kampung. Kita mungkin bisa menemukan seorang siswa atau masyarakat berbuat sesuatu yang mempunyai arti sangat besar bagi sekolah atau bagi lingkungan desa atau kampung. ( Drs. Nur Wahyu Rachmadi, M.Pd.,M.SI. Buku Kewarganegaraan, hal. 12)

B. Pengertian Motivasi
Motivasi dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah dorongan diri melakukan tindakan untuk tujuan tertentu. Oleh karena itu bisa disimpulkan bahwa motivasi berprestasi adalah dorongan diri melakukan tindakan untuk tujuan tertentu dalam mencapai hasil yang optimal. (Buku Ampuh Menjadi Cerdas Tanpa Batas, Baban Sarbana dan Dina Diana. Jakarta 2002)
Motivasi adalah sikap seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan yang bersifat positif.



C. Pengertian Remaja
Remaja menurut Elizabetz B. Hurlock dibagi menjadi 2 masa, yaitu masa remaja awal dan masa remaja akhir. Yang termasuk remaja awal adalah mulai umur 13 atau 14 sampai dengan 17 tahun. Sedangkan masa remaja akhir adalah mulai umr 17 sampai 21 tahun. (Drs. Andi Mappiare, Psikologi Remaja, Surabaya, hal : 24)
Remaja sebagai generasi muda mempunyai tanggung jawab dalam pembangunan bangsa, maka remaja dituntut untuk mempunyai sikap mandiri. Sikap mandiri ini haruslah ditanamkan dalam diri remaja, supaya remaja tidak terlalu bergantung kepada bantuan orang lain dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Dengan kepribadian yang kokoh, percaya diri dan bertanggung jawab, remaja diharapkan dapat menentukan masa depannya sesuai dengan harapan-harapan yang dimilikinya, sehingga dapat menjadi pendorong dalam dirinya untuk mencapai prestasi, menjadi produktif dan mempunyai kreasi yang akan membawa dirinya ke arah kemajuan.
Remaja mandiri akan mampu untuk mengambil keputusan sendiri sehingga tidak mudah untuk terbawa arus pergaulan yang menyesatkan dan memiliki kemampuan dalam mengatasi permasalahan. Pada masa remaja awal seseorang masih dipengaruhi oleh masa kanak-kanaknya sehingga pada masa ini seseorang belum begitu mandiri. Sedangkan pada masa remaja akhir, remaja sudah menunjukkan sikap dewasa, sehingga sikap mandiri remaja akhir sudah mantap dan tidak mudah terombang-ambing. (Andi Mappiare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hal: 39).
Pada umumnya, remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (high criosity) karena didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi, remaja cenderung ingin berpetualang, menjelajahi segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya. Selain itu, didorong juga oleh keinginan seperti orang dewasa menyebabkan remaja ingin mencoba melakukan apa yang sering dilakukan oleh orang dewasa.
Oleh karena itu, melihat potensi remaja, menjadi penting dan sangat menguntungkan jika usaha pengembangannya difokuskan pada aspek-aspek positif remaja daripada menyoroti sisi negatifnya. Dengan demikian, yang dibutuhkan remaja adalah bimbingan dan konseling agar rasa ingin tahunya yang tinggi dapat terarah kepada kegiatan-kegiatan yang positif, kreatif, dan produktif. Jika keinginan-keinginan itu mendapat bimbingan dan penyaluran yang baik, akan menghasilkan kreativitas remaja yang sangat bermanfaat, maka tidak dikhawatirkan dapat menjurus kegiatan atau perilaku negatif. (Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, hal: 18).
Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung antar umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari bahasa latin adolescere, yang artinya “ tumbuh atau tumbuh untuk mencapai ketenangan “. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, social dan fisik (Hurlock, 1991).pandangan ini didukung oleh piaget (Hurlock,1991) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintregrasi kedalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar. Remaja juga msedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.(Prof. Dr. Mohammad Ali dan Prof. Dr. Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Jakarta 2004)












BAB III
SEJARAH SINGKAT PAHLAWAN WANITA JEPARA

A. RATU SHIMA
Antara ada dan tiada, itulah yang dapat dikatakan ketika membincangkan tentang kisah kebijakan Ratu Shima, karena jika dilihat dari petilasnya memang tidak jelas ada dimana. Namun dalam beberapa cerita dan telah terbentang dalam teks sejarah, Ratu Shima adalah penguasa kerajaan Kalingga di Jepara. Pada waktu itu masyarakat mayoritas memeluk agama Budha, hingga masyhur disebut kerajaan Budha Kalingga.
Kurun waktunya pun tidak tahu pasti, namun sejarah mencatat kira-kira sekitar tahun 674 M atau pada abad ke VII (tujuh) M. kerajaan Kalingga ini masuk dalam jajaran kerajaan pertama yang terdata oleh sejarah. Berkedudukan di Jepara yang sekarang menjadi satu nama Kecamatan di Kabupaten Jepara, yaitu Kecamatan Keling, terletak di Jepara bagian utara.
Keadilan dan kearifan Ratu Shima memang sudah tersohor diseluruh penjuru negeri ada banyak versi yang menggambarkan keadilan Ratu Shima. Salah satu versinya sebagai berikut. Cerita bermula dari sumpah sang Ratu untuk menegakkan keadilan di kalingga.
Tingkahnya tersebut sebenarnya sudah dilihat dari jauh oleh mata-mata kerajaan. Tak lama kemudian, kabar itu sampai ke Ratu . murkalah Ratu Shima mendengar anaknya sendiri melanggar titahnya. Ia bimbang. Namun bukanlah Ratu Shima jika ia menelan ludahnya sendiri. Tanpa pandang bulu, walau dengan rasa penyesalan yang mendalam, ia perintahkan punggawa kerajaan untuk menangkap anak kandungnya tersebut di potong tangannya sebagai konsenkuensi ia telah mengambil harta yang bukan miliknya.
Tak hanya hikmah keadilan yang dapat dipetik dari Ratu Shima. tapi juga kita melihat bahwa ia adalah seorang wanita yang memerintah sebuah kerajaan besar membuktikan bahwa ia adalah pelopor emansipasi wanita. Emansipasi yang di yakani sebagai semangat untuk membebaskan wanita dari belenggu stereotype atau image yang memandang lemah kaum wanita seluruhnya.
Ternyata benih emansipasi yang ditabur oleh Ratu Shima pada abad ke VII (tujuh) di Jepara tersebut diteruskan oleh Raden Ajeng Kartini, seorang pejuang emansipasi wanita Indonesia yang mati muda. Sebelumnya sudah tercatat dalam sejarah, bagaimana Ratu Kalinyamat pada masa kerajaan Islam Demak pun topo wudo sebagai simbolisasi konsistensi dan kebulatan tekad melawan ketidak adilan.
Satu pertanyaan yang cukup menggelitik, mengapa terdapat semacam runtuhan cerita dan tokoh serta perjuangannya yang ditokohkan oleh seorang wanita di Jepara? Apakah ” Jiwa ”- nya Jepara dalah jiwa wanita? Tentu bukan pengertian lemah, tetapi kuat, konsisten, peduli, sebagaimana ditunjukkan oleh Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA. Kartini.
Satu filosofi kehidupan yang dapat diambil hikmahnya dari fenomena ini adalah ; perjuangan itu harus tetap berlanjut sampai kapanpun. Hidup ini adalah perjuangan tanpa akhir, dalam satu syair lagunya dewa. Semangat yang sama, yaitu emansipasi wanita yang ditunjukkan oleh legenda Ratu Shima, teruskan Ratu Kalinyamat, dan perjuangan RA. Kartini menunjukkan bahwa perjuangan untuk menunjukkan eksistensi kaum wanita harus tetap dilakukan.
Akhirnya wanita-wanita Jepara khususnya sudah seharusnya menyadari dan mewarisi benih emansipasi yang dibawa Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini. Sadar bahwa kaum wanita mempunyai hak yang sama dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tahu hak politik, hak perlindungan hukum, dan lain sebagainya. Semangat dan kesadaran itulah yang harus diwarisi masyarakat Jepara seluruhnya, tidak hanya kaum hawa saja. (Edi Subkhan, , Serambi Jepara/I/November 2006).
Kalingga merupakan kerajaan penganut agama Budha yang populer di Jawa bagian tengah pada abad 7 M. Pusat kerajaanya diduga berada disekitar wilayah Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Menurut KH. Nur Rohmat, ulama dan ahli sejarah Jepara, Ibu Kota kerajaan Kalingga terletak di sekitar lokasi Benteng Portugis, Kecamatan Keling.
Raja kerajaan tersohor adalah seorang perempuan bernama Putri Shima. Dia memerintah kerajaan Budha Kalingga di Jepara sekitar tahun 674 . disebut putri Sima karena wilayah kerajaannya di batasi dengan sima-sima.
Ratu pertama di Jawa ini memberlakukan hukum dengan adil. Sebuah undang-undang diberlakukan, yaitu orang yang berbuat kejahatan akan dikenakan hukuman sebanding dengan kejahatan yang dilakukan. Jika seseorang yang melakukan kejahatan dengan tangannya, maka tangannya itu akan di hukum.
Pendeknya Ratu Shima telah berhasil menciptakan keadialan dan kesamaan di depan hukum.
Dalam perjalanannya, kerajaan Kalingga berkembang menjadi besar di wilayah Jawa bagian tengah di pesisir pantai utara. Namun daerah ini tandus dan ketika musim kermarau sangat kering. Kondisi ini menyebabkan masyarakatnya bergerak ke daerah pedalaman untuk mencari wilayah yang bertanah subur. Mereka kemudian menemukan tempat di lereng Gunung Merapi.
Secara perlahan orientasi yang bersifat materi ditinggalkan dan merambah pada orientasi yang bernuansa spiritual. Tidak heran apabila perbedaan mataram kuno ditandai dengan sisa-sisa bangunan tempat ibadah candi. Salah satu candi termegah didunia yanmg dibuat pada zaman dahulu adalah Candi Borobudur, selain Candi Mendut, Candi Prambanan, dan candi-candi indah lainnya.(Ali Romdhoni, Serambi Jepara/I/November 2006).
Ratu Shima adalah nama penguasa kerajaan Kalingga. Yang pernah berdiri pada millenium pertama di Jawa. Tidak banyak yang diketahui tentangnya, kecuali bahwa ia sangat tegas dalam memimpin dengan memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri. Salah satu korbannya adalah keluarganya sendiri.
Syahadan, kerajaan Kalingga, nagari di Pantura (Pantai Utara Jawa, sekarang di Keling, Kelet, Jepara, Jateng) beratus masa berlampau, bersinar terang emas, penuh kejayaan. Bersimaharatulah, Ratu Shima, nan ayu, anggun, perwira, ketegasannya semerbak wangidi antero nagari Nusantara.
Konon, Ratu Shima, justru amat resah dengan kepatuhan rakyat, kenapa wong cilik juga pejabat Majapahit, Patih, Maha Mentri, dan Mentri, Hulubalang, Jagabaya, Jagatirta, Ulu-Ulu, pun segenap pimpinan divisi kerajaan sampai tukang istal kuda, alias pengganti tapal kuda tunggang kesayangannya, tak ada yang berani menentang sabda Pandita Ratunya.
Tak puas dengan sikap setia lingkaran dalamnya, Ratu Shima, sekali lagi menguji kesetiaan wong cilik, pemilik sah kerajaan kalingga dengan menghamparkan emas permata, perhiasan yang tak tenilai harganya diperempatan alun-alun dekat istana tanpa penjagaan sama sekali.
Namun malang tak dapat ditolak. Esok harinya semua perhiasan itu lenyap tanpa bekas. Amarah menggejolak di hati sang penguasa Kalingga. Segera di titihkan para telik sandi mengusut wong cilik yang mungkin jadi maling disekitar lokasi persembahan,. Namun setelah diperiksa dengan seksama,. Berpuluh laksa wong cilik. tak ada yang pantas dicurigai sebagai pelaku, sementara pejabat istana pun berbondong, bersembah sujud, bersumpah setia kepada Ratu Shima.
Sejenak istana teramat sunyi, hanya bunyi nafas yang terdengar, dan daun-daun jati emas yang jatuh luruh ke tanah. Prajurit, demi tegaknya hukum, dan menjauhkan nagari kalingga dari kutukan dewata, potong tangan tangan putra mahkotaku, sekarang juga, perintah sang Ratu Shima dengan muka keras. Seluruh penghuni istana dan rakyat jelata yang berlutut hingga alun-alun merintih memohon ampun, namun sang Ratu tiada bergeming dari keputusannya. Hukuman tetap dilaksanakan. Hal itu dituliskan dengan jelas Prasasti Kalingga, yang masih bisa kita lihat hingga kini. (“ http:/id.wikipedia.org/wiki/Shima”)

B. Ratu Kalinyamat
Ratu Kalinyamat adalah putri kandung Sultan Trenggono sedangkan Pangeran Hadiwijaya adalah putra mantu Sultan Trenggono pula.
Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara berkembang pesat menjadi Bandar niaga utama di Pulau Jawa, yang melayani ekspor import. Disamping itu juga menjadi angkatan laut yang telah dirintis sejak masa kerajaan Demak. Sebagai sorang penguasa Jepara, yang gemah ripah loh jinawi karena keberadaan Jepara kala itu sebagai Bandar niaga yang ramai, Ratu Kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengiriman armada perangnya ke Malaka guna menggempur Potugis pada tahun 1551 dan tahun 1574. adalah tidak berlebihan jika orang Potugis menyebut sang ratu sebagai “ RAINHA DE JEPARA “ SENORA PADEROSA DE RICA “, yang artinya Raja Jepara seorang wanita yang sangat berkuasa dan kaya raya. Serangan sang Ratu yang gagah berani ini melibatkan hampir 40 buah kapal yang berisikan 5.000 orang prajurit.
Namun serangan ini gagal, ketika prajurit Kalinyamat ini melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan Portugis di Malaka, tentara Portugis dengan persenjataan lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Kalinyamat.
Namun semangat patrioptisme sang Ratu tidak pernah luntur dan gentar menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 16 itu sedang dalam puncak kejayaan dan diakui sebagai bangsa pemberani di dunia.
Dua puluh empat tahun kemudian atau tepatnya Oktober 1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar di malaka. Ekspedisi militer kedua ini melibatkan 300 buah kapal diantaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pegiriman armada militer kedua ini dipimpin oleh panglima terpenting dalam kerajaan yang disebut orang Portugis sebagai “ QUILIMO ”.
Walaupun akhirnya perang kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat juga tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka, namun telah membuat takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara ini, terbukti dengan bebasnya Pulau Jawa dari penjajahan Portugis di Abad 16 itu.
Sebagai peninggalan sejarah dari perang besar antara Jepara dan Malaka, sampai sekarang masih terdapat di Malaka komplek kuburan yang dibuat sebagai makam tentara Jawa. Selain dari pada itu tokoh Ratu Kalinyamat ini juga sangat berjasa dalam membudayakan SENI UKIR yang sekarang ini jadi andalan utama ekonomi Jepara yaitu perpaduan seni ukir Majapahit dengan seni ukir patih Badarduwung yang berasal dari Negeri Cina.
Ratu Kalinyamat Wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di desa Mantingan Jepara, disebelah makam suaminya Pangeran Hadlirin.
Mengacu pada semua aspek positif yang telah dibuktiakan oleh Ratu Kalinyamat sehingga Jepara menjadi negeri yang makmur, kuat dan masyur maka penetapan Hari Jadi Jepara yang mengambil waktu beliau dinobatkan sebagai penguasa Jepara atau yang bertepatan dengan tanggal 10 April 1549 ini telah ditandai dengan candra Sengkala “ TRUS KARYA TATANING BUMI “ atau terus bekerja keras membangun daerah. (Drs. Teguh Supurbo, MM. Jepara, 10 April 2003)
Mengenai fragmen dari “Babad Tanah Jawi” tentang cara pertapaan Ratu Kalinyamat “mertapa awewuda wonten ing redi Denareja. Kang minangka tapih remanipun kaore”.
Benarkah Ratu Kalinyamat sungguh-sungguh bertapa telanjang di gunung Denaraja ?. dalam penyusun karyanya para pengarang naskah-naskah tradisional di Jawa sering menggunakan lambing dan kiasan.
Kebisaan ini ada hubungannya dengan sifat masyarakat Jawa sendiri pada masa lalu yang sangat senang sekali dengan Olah Raga. (Jassin, H.B Alqur’an Bacaan Mulia, Cetakan Kedua, Jakarta, 1982)
Di gunung deraja inilah Ratu Kalinyamat menyusun siasat dalam benteng pertahanannya. Bangunan benteng pertahanan ini pernah dilihat oleh pelaut belanda pada abad ke-XVII.(Kompers, Bernet A.J., ancient Indonesian art, Amsterdam, 1959 )



C. RA. Kartini
Siapakah Kartini ?
Ia adalah yang banyak minatnya, dan batinnya tumbuh dengan pesat. Maka itu surat-suratnya dapat ditafsirkan dengan bermacam cara. Ia seorang pemimpin sejati, tapi juga seorang tahanan; seorang pemberontak, tapi juga seorang penurut. Ia seorang Kartini yang langsung berjongkok menghormat Mama Moerjam waktu beliau memasuki kamar gadis-gadis. (Betapa Besar Pun Sebuah Sagakar Hidup, Suratan Dan Karya Kartini. Elisabeth keesing, 1999, hlm. 216-217)
Raden Ajeng Kartini, Lahir Tanggal 21 April 1879 di Jepara Wafat Tanggal 17 September 1904 putri Bupati Jepara Raden Mas Adipati Sosro Ningrat, dilahirkan sebagai wanita pertama Indonesia yang bercita-cita merubah kehidupan wanita di lingkungannya.
Pada waktu itu kehidupan wanita masih sangat terikat dan dibatasi oleh adat. Dengan diberi pendidikan, wanita akan lebih cakap menunaikan tugas utamanya yaitu sebagai pendidik pertama dari manusia. Usaha yang pertama adalah mendirikan kelas kecil untuk anak-anak gadis dimana mereka diberi pelajaran membaca, menulis, memasak, menjahit, dan ketrampilan lainnya.
Raden Ajeng Kartini adalah seorang yang berjiwa besar, walaupun ia menyadari akan darah kebangsaannya., tetapi ia memiliki jiwa kerakyatan dan dapat menyelami kehidupan rakyat kecil. Ia berusha menolong pengukir kayu dengan jalan memberikan pekerjaan bagi mereka dan memikirkan pemasarannya ke kota-kota besar. Dengan usaha kartini ini, ukiran kayu jati Jepara terkenal kemana-mana. (Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Jakarta 1978)
Salah satu peristiwa menarik bagi Thomas Stanford Raffles, Letnan Gubernur Inggris untuk Jawa dan daerah seberang (1811-1816) Tuban, Jawa Timur. Ia terheran ketika melihat anak-anak Bupati Tuban yang berjumlah lebih dari 68 orang itu. Keheranannya itu lalu menimbulkan rasa iba terhadap praktek poligami, seperti ditulis dalam buku History Of Java : “ Poligami dalam Bentuk apaupn sangat melukai rakyat dan kebahagiaan”.
Kartini tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena harus mamasuki masa pingitan, sampai ada seorang pria melamar dan memperistrinya. Tetapi ia berhasrat besar menjadi guru, seperti ditegasnya : “ Saya ingin di didik menjadi guru. Ingin mencapai dua ijasah, yaitu ijasah guru sekolah rendah dan ijasah guru kepala. Lalu mengikuti kursus-kursus mengenai kesehatan, ilmu balut membalut, dan pemeliharaan orang sakit”. Dalam satu suratnya, ia mengatakan “ Bagaimana ibu-ibu bumi putra dapat mendidik anak-anaknya kalau mereka sendiri tidak berpendidikan? Dapatkakah ia dipersalahkan bahwa dia merusak anaknya, merusak masa depan yang disebabkan oleh kelemahan dan kebodohannya?
Kesimplannya kartini bercita-cita membebaskan bangsanya dari derita. Hidupnya sendiri berakhir sangat tragis : terjerat intrik dan adapt yang dilawannya. Tetapi, ia merupakan “ terang ” bagi bangsanya.belenggu adapt dan tradisi seta penderitaan hid pnya tidak mematahkan gairah hidup dan kemerdekaan jiwanya.: “ hidup itu terlalu indah , terlalu sedap untuk dihancurkan dengan ratap tangis akan hal-hal yang tidak dapat diubah. (Jejak-Jejak Pahlawan, Y.B. Sudarmanto, Jakarta 1996)

D. Patriotisme Ke-3 Palawan Wanita Jepara Sebagai Motivator Remaja
1.Ratu Shima dengan Kerajaan Kalingganya yang berhasil menerapakan sistem kesetaraan di depan Hukum. Dengan patriotisme yang dimiliki oleh Ratu Shima semoga Permerintah Jepara dapat menerapakan sistem kesetaraan hukum yang adil dan tidak pandang bulu demi kemajuan dan kemakmuran masyarakat dan remaja Jepara
2.Ratu Kalinyamat dengan keberhasilannya membangun struktur ekonomi yang tangguh. Dengan keberhasilan Ratu Kalinyamat dalam membangun struktur ekonomi, Pemerintah Kabupaten Jepara dapat menerapakan struktur ekonomi yang baik dan benar
3.Raden Ajeng Kartini yang melopori gerakan emansipasi kaum perempuan di masa-masa awal sejarah kebangkitan Indonesia. Patriotisme yang dimiliki oleh RA. Kartini perlu ditiru dan diterapakan khususnya kaum wanita sekarang yang mulai melupakan patriotisme RA. Kartini.
Penulis berharap semoga Patriotisme Ke-3 Pahlawan Jepara dapat ditiru dan di terapakan oleh remaja Jepara sekarang.

E. Keteladanan Ke-3 Pahlawan Wanita Jepara Sebagai Figur
1.Ratu Shima, keadilan dan kearifan untuk menegakkan keadilan di Kalingga.
2.Ratu Kalinyamat, keberaniannya dalam mengusir bangsa Portugis walaupun Ratu Kalinyamat gagal mengusir bangsa Portugis, tapi semangat keberaniannya tidak akan pudar dalam menjadi penguasa Jepara.
3.RA.Kartini, emansipasinya sangat baik sekali dalam menyelami kehidupan rakyat kecil dan membawa kehidupan wanita yang lebih baik.

















BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1.Ratu Shima dengan Kerajaan Kalingganya yang berhasil menerapakan system kesetaraan di depan Hukum.
2.Ratu Kalinyamat dengan keberhasilannya membangun struktur ekonomi yang tangguh.
3.Raden Ajeng Kartini yang melopori gerakan emansipasi kaum perempuan di masa-masa awal sejarah kebangkitan Indonesia.
Akhirnya wanita-wanita Jepara khususnya sudah seharusnya menyadari dan mewarisi benih emansipasi yang dibawa Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, dan RA Kartini. Sadar bahwa kaum wanita mempunyai hak yang sama dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tahu hak politik, hak perlindungan hukum, dan lain sebagainya. Semangat dan kesadaran itulah yang harus diwarisi masyarakat Jepara seluruhnya, tidak hanya kaum hawa saja.
B. SARAN-SARAN
Dalam karya tulis ini penyusun ingin memberikan saran kepada :
1.Remaja Jepara untuk dapat meniru dan dapat menjadi penerus Ke-3 Pahlawan Wanita Jepara sebagai modal untuk membangun Jepara lebih baik.
2.Masyarakat Jepara agar dapat menjadi contoh bagi Remaja Jepara dan bisa memberikan motivasi dan perhatian kepada Remaja Jepara yang sekarang sudah mulai melupakan Patriotisme Ke-3 Pahlawan Jepara.
Dengan karya tulis ini, penulis berharap semoga karya tulis ini dapat memberi motivasi kepada remaja Jepara untuk selalu mengenang dan tidak melupakan Patriotisme Ke-3 Pahlawan Wanita Jepara dan dapat menjadikan pelajaran bagi kita semua. Amin



BAB V
DAFTAR PUSTAKA


1.Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Peserta Perkembangan Perseta Didik, Bumi Aksara, Jakarta, 2004, hlm. 107
2.Drs. Nur Wahyu Rachmadi, M.Pd.,M.SI. Buku Kewarganegaraan, hal. 12
3.Buku Ampuh Menjadi Cerdas Tanpa Batas, Baban Sarbana dan Dina Diana. Jakarta 2002
4.Drs. Andi Mappiare, Psikologi Remaja, Surabaya, hal : 24)
5.Andi Mappiare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hal: 39
6.Prof. Dr. Mohammad Ali dan Prof. Dr. Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, Jakarta 2004
7. Edi Subkhan, , Serambi Jepara /I/November 2006
8. Ali Romdhoni, Serambi Jepara/I/November 2006
9. http:/id.wikipedia.org/wiki/Shima
10.Drs. Teguh Supurbo, MM. Jepara, 10 April 2003
11.Jassin, H.B Alqur’an Bacaan Mulia, Cetakan Kedua, Jakarta, 1982
12.Kompers, Bernet A.J., ancient Indonesian art, Amsterdam, 1959 )
13.Elisabeth keesing, Betapa Besar Pun Sebuah Sagakar Hidup, Suratan Dan Karya Kartini., 1999, hlm. 216-217
14. Kongres Wanita Indonesia (KOWANI), Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, Jakarta 1978
15.Y.B. Sudarmanto, Jejak-Jejak Pahlawan, Jakarta 1996


by: Eny Rofikhah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar